Oleh: Ahmad Kekal Hamdani
Ketika Benedict Anderson berbincang tentang bangunan sebuah masayarakat maupun negara, yang ia sebut sebagai ‘imagined communities ’ sebuah komunitas terbayang. Bahwa negara-bangsa merupakan sebuah citraan dari sebuah komunitas, individu yang mempersatukan diri dalam angan dan citraan. Barangkali dia lupa untuk bertanya, apakah kolonialisme itu lantas merupakan hasil dari imagined communities? Sebuah masayarakat yang membentuk kesakitan-kesakitannya sendiri, masyarakat yang membiakkan borok-boroknya sendiri. Hal ini menjadi menarik sebab sebenarnya ‘komunitas terbayang’ itu adalah sesuatu yang melangit, tidak membumi. Dan saya hendak mengatakan, bahkan B. Anderson tidak dapat ‘membayangkan’ bagaimana Indonesia tumbuh dari luka dan sayatan yang berlapis-lapis.
Bagaimana seorang Benedict Anderson membayangkan keterjajahan? Toh masyarakat korban kolonialisme saja tak berhasil-hasil membayangkan Indonesia itu semacam apa? Nama, Pisang goreng, atau sebuah gugusan pulau-pulau dengan tikus-tikus yang berkeliaran di dalamnya. Hal ini mestinya mengingatkan kita semua bahwa kolonialisme itu tidak selesai (dalam arti yang sebenarnya), bagaimana sebuah suntikan-suntikan gagasan non-teritorial telah menjadi semacam virus biologis yang merasuk dan menyukma di dalam tubuh ke-Indonesia-an. Apa yang dikatakan Benedict Anderson pun adalah semacam simulasi atau pengandain kepada generasi pemikir-pemikir Indonesia, bahwa Negara ini ‘yang dibesarkan dengan perjuangan’ tidak pernah ada kecuali dalam khayalan.
Produk khayalan semacam ini tidak baik untuk didistribusi ke dalam mental bangsa, apalagi kepada sebuah bangsa yang sakit. Mungkin saja Benedict Anderson merumuskannya dengan nama objektifitas yang putih, tanpa tendensi sebagai neokolonial (saya malah menjadi membayangkan terlalu jauh) secara intensional maupun nonintensional. Akan tetapi kita mesti bisa menempatkannya di wilayah maupun kerangka pemikiran yang tepat tentang masyarakat terbayang ini.
Serangan dalam bentuk kesadaran geopolitik ke dalam teks-teks estetik, kebangsaan, kecendikiaan dan kultur massa memang sangat ampuh, tak ayal membuat kita merasa dibelai-belai lembut (meski sebenarnya senjata saat ini tidak lagi berupa senapan, melainkan teks dan citraan-citraan yang mengkamuflase ke-ada-Indonesia-an itu sendiri secara kultural! Sedikit mengulang bahasa Radar Panca Dahana; semacam Coca-colanisasi. Sebuah cairan soda yang tidak hanya melakukan deteritorialisasi ke-ada-an Indonesia akan tetapi melenyapkannya, nge-fly entah ke langit sana.
Saya hendak mengatakan bahwasanya Indonesia itu ada dan terus dalam proses mengada, Merah Putih itu bendera kita dan berkibar meski dengan malas. Bahwa kita, manusia, pohon-pohon, binatang, laut, gunung dan bahkan tentang burung Garuda-Pancasila maupun cita-cita itu benar-benar nyata (bangunlah orang yang tidur!). Saya hanya hendak mengatakan bahwa kita sedang sakit, dan maaf: sakit ini bukan khayalan.
Salah satu ciri penting dari kolonial adalah pegangan teguhnya atas konsep ketetapan (fixity) serta ‘kamuflase’ (ke dalam konstruk pelupaan pada yang asal) di dalam Konstruksi ideologi sang lian (otherness). Jadi tidaklah mengherankan jika apa yang sebenarnya telah menjadi diri kita saat ini sedikit banyak adalah sebuah warisan dari kolonialisme, itulah kenyataan. Dan kita mesti bersikap atas keber-ada-an yang demikian itu. Untuk mengafirmasi diri sebagai bangsa dan menerima serta membangun lianing-lian (otherness) yang datang dari luar territorial ruang-waktu ke-Indonesia-an.
Bila ‘imagined communities ’ yang diutarakan Benedict Anderson adalah sebuah tangga dari sebuah tahapan menjadi, maka sudah saatnya bagi kita untuk menjadikan bayangan serta rekonstruksi tentang Indonesia itu sebuah objek ‘Politik Segmentasi’, yakni politik pembentukan. Bagaimana kita dapat menyediakan dan mengendalikan sendiri kemerdekaan yang tidak saja selalu kita bayangkan tapi juga kita gembor-gemborkan itu. Menjadi tidak hanya sebuah gambaran nyata tapi realitas yang dapat dipegang dan digunakan sebagai godam.
Politik segmentasi sebagaimana diutarakan oleh Deleuze dan Guattari yang digunakan kaum kolonial untuk mengkonstruk kaum jajahan dapat kita gunakan dalam mengkonstruk balik bayangan itu sendiri menjadi sebuah tindakan real memecah kolonialisme yang berlapis-lapis. Sebuah usaha memutar balik, mewujudkan senjata makan tuan yang dapat menghancurkan bentuk hegemoni yang sampai saat ini tidak dapat direduksi. Meski saya tidak sependapat dengan Deleuz dan Guattari tentang bagaimana kolonialisme melakukan deterotorialisasi (pembongkaran) terhadap identitas awal, bahkan bagi saya lebih daripada itu: kolonialisme sebuah usaha melenyapkannya dengan menguraikannya dengan bentuk kesadaran-kesadaran palsu (false consciousness) sebagaimana dikatakan Marx, di mana yang bias, palsu, dan menipu itu dikemas dalam sebuah tingkat kesadaran sebagai sebuah ‘kebenaran’.
Oleh karena itu, berangkat dari gagasan di atas mengenai ‘imagined communities’ sudah mestinya kita sadar bahwa pasca kolonialisme fisik-historis, Indonesia mesti menentukan sikap. Menolak bayang-bayang, membuka tangan bagi keberlainan serta dinamisasi kebudayaan yang terus berlari mencari titik pemberhentian yang musykil. Bahwa kemerdekaan itu bukan isapan jempol, ia sedang merangkak-rangkak dan berusaha keras membangun dirinnya sendiri, ke-indonesia-an yang adil, makmur dan sejahtera (entah mengapa, kuping saya agak gatal mendengar bahasa macam ini). Kita tidak hanya mesti membangun imajinasi mandiri (self imagination) sebagaimana ditulis oleh Yasraf Amir Piliang dalam pembicaraannya tentang sastra poskolonialisme, akan tetapi bagi saya kita mesti mewujudkannya dalam kemerdekaan yang real sebagai tahapan yang kontinyu.
Apakah lantas kita membutuhkan sebuah perkawinan silang budaya, sebuah hibriditas kulturasi dari relik-relik identitas yang selama ini pecah dan mengawang dalam alam khayal? Di masa kecemasan tentang neo-liberalisme yang mengancam bagi sebagian orang maupun kelompok, bagaimanakah kita untuk tidak hanya mengimajinasikan sebuah kemerdekaan. Melainkan menjadikannya sebuah realitas paling kentara sebagai menifestasi dari cita-cita bersama (bukan khayalan).
Masihkah kita memperbincangkan timur-barat ketika kita sadar bahwa kita berada di dalamnya? Menjadi bagian di antaranya, dan secara langsung maupun tidak langsung menjadi objek sekaligus subjek di dalamnya? Entah, setidaknya kita mengamini bahwa kemerdekaan ini, yang kita rasakan saat ini, bukanlah bayang-bayang. Kemerdekaan itu nyata (mengutip adegan dalam puisi Sapardi) ia adalah seorang gadis kecil yang diseberangkan gerimis, di tangan kanannya bergoyang payung, tangan kirinya mengibaskan tangis!
Yogyakarta, 2009
*) Penyair, tinggal di Yogyakarta.